Beasiswa ke Jerman


Di Jerman pendidikan tinggi diselenggarakan oleh dua macam institusi, Universität (universitas) dan Fachhochschule (politeknik). Lulusan Fachhochschule (FH) diarahkan untuk mempunyai keterampilan dan pengetahuan praktis yang bisa langsung dipergunakan dalam dunia kerja, sedangkan universitas ditujukan untuk mencetak orang-orang yang akan membuat desain dan inovasi baru. Untuk itu lulusan universitas biasanya diberi pengetahuan teoritis yang lebih banyak daripada lulusan FH. Sekarang baik FH maupun universitas di Jerman memberikan gelar bachelor dan master, tapi secara umum lulusan universitas dianggap lebih tinggi jenjang pendidikannya daripada FH. Walaupun demikian, FH sangat diminati karena lulusannya biasanya mudah mendapatkan pekerjaan di industri karena lulusan FH dianggap siap kerja. Jadi ke mana teman-teman ingin melamar terserah pada minat dan bakat yang ada. Untuk program S-3, tidak ada pilihan lain selain universitas, karena FH tidak diperkenankan membuat program doktor.

Memang secara umum pendidikan di Jerman diselenggarakan dalam bahasa Jerman. Itulah juga salah satu sebabnya bagi teman-teman yang ingin melanjutkan studi langsung setelah SMA ke Jerman, biasanya harus melalui sekolah persamaan yang disebut Studienkolleg. Di Studienkolleg ini akan diberikan pelajaran seperti matematika, fisika, kimia, dll. selain bahasa Jerman. Menurut pengalaman orang-orang Indonesia yang sudah melalui tahap ini, pelajaran di Studienkolleg biasanya tidak terlalu susah buat lulusan SMA Indonesia, terkecuali untuk bahasa Jerman. Lama pendidikan di Studienkolleg tergantung kecepatan teman-teman belajar, tapi biasanya sekitar 1-2 tahun.

Tapi jangan khawatir. Sekarang ini sudah semakin banyak jurusan yang dibuka dalam bahasa Inggris di Jerman. Untuk mencari program studi yang sesuai dengan minat dan bakat teman-teman, Deutscher Akademischer Austausch Dienst (DAAD) atau badan pertukaran akademis Jerman, telah menyediakan mesin pencari (search engine) di website mereka: http://www.daad.de/deutschland/index.en.html, di bagian “course search“. Di sana tidak hanya program reguler untuk S1 dan S2 yang tersedia, tapi juga program-program jangka pendek seperti summer school dan training. Untuk program S3, website DAAD juga menyediakan mesin pencari lewat “doctorate” -> “research explorer“.

Bagaimana dengan beasiswanya? Website DAAD juga memfasilitasi hal ini. Teman-teman dapat mengklik “support“-> “scholarship database“. Kebanyakan mahasiswa asing di Jerman yang mendapat beasiswa memang mendapatkannya dari DAAD, tapi DAAD ini bukanlah satu-satunya sumber. Seringkali universitas mempunyai kerja sama dengan industri atau badan penelitian seperti Fraunhofer Institute sehingga dapat memberikan beasiswa untuk S2 dan S3 (kadang-kadang ada juga untuk S1, tapi lebih jarang). Atau bisa juga lewat organisasi keagamaan, seperti gereja. Beasiswa-beasiswa dari sumber lain ini juga seringkali dapat ditemukan lewat database DAAD yang disebutkan di atas. Untuk S3, proyek yang dikerjakan itu biasanya mempunyai dana untuk membiayai peneliti, sehingga seringkali mahasiswa S3 di Jerman dianggap bekerja untuk universitas atau institut penelitian dan diberi gaji. Dalam banyak kasus, mahasiswa S3 yang dianggap pekerja ini juga harus ikut membantu proses belajar-mengajar di universitas, misalnya menjadi tutor atau menjadi pembimbing kedua untuk mahasiswa S1 atau S2. Tapi tidak selalu begitu. Banyak juga mahasiswa S3 yang dianggap pekerja hanya melulu melakukan penelitian S3-nya.

Keuntungan tambahan bila kita mendapatkan beasiswa DAAD adalah adanya program kelanjutan untuk alumni. Program kelanjutan ini bisa berupa bantuan buku atau alat-alat penelitian, bahkan kesempatan untuk kembali ke Jerman dalam rangka pelatihan atau kursus singkat. Pemerintah Jerman juga memberikan bantuan bagi alumni perguruan tinggi Jerman yang ingin kembali ke negara asalnya. Nantikan posting berikutnya untuk hal ini!

Ayo kita manfaatkan kesempatan yang terbuka ini! Tetap semangat!

2 responses to “Beasiswa ke Jerman

  1. “….Itulah juga salah satu sebabnya bagi teman-teman yang ingin melanjutkan studi langsung setelah SMA ke Jerman, biasanya harus melalui sekolah persamaan yang disebut Studienkolleg.”

    Studienkolleg bukan persamaan karena semata-mata masalah bahasa, namun karena perbedaan sistem sekolah dasar di Jerman (13 thn) dan non-Jerman (12 thn).
    Bahkan seorang anak yang sempat sekolah dasar di Jerman lalu pindah ke negara lain dlm wkt cukup lama dan kembali lagi untuk mengikuti sisa sekolah dasarnya di Jerman, maka sekolah akan men-verifikasi apakah anak tersebut layak langsung melanjutkan atau harus mengulang kelas yg sama di Jerman.

    • Terima kasih buat inputnya. Memang Studienkolleg bukan hanya untuk belajar bahasa, tapi juga belajar pelajaran lain, seperti fisika, matematika, kimia, dll. seperti juga disebutkan dalam artikel yang ada di blog ini. Tapi biasanya lulusan sma Indonesia tidak mendapat masalah untuk pelajaran lain itu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s